Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, selama periode Januari sampai Februari 2009 tercatat 4.290 pasien DBDm, dimana 1 orang diantaranya meninggal. Jakarta timur 1.279 orang dan 4 orang meninggal. Jakarta Selatan 1.247 orang dan 1 orang meninggal, Jakarta Utara tercatat 817 pasien DBD dan 1 orang meninggal, Jakarta Barat terdapat 482 pasien dengan 2 orang meninggal dan terakhir Jakarta Pusat dengan 464 pasien dan 4 orang diantaranya meninggal. Demikian dikatakan Dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB dalam acara PAPDI Forum tentang "Antisipasi Akibat Fatal Demam Berdarah", yang diselenggarakan belum lama ini (23/4) di Jakarta.
Dr. Ari mengatakan, bahwa penyakit Infeksi demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus DHF tampaknya akan selalu ada di bumi Indonesia ini. Penyakit DBD ini merupakan penyakit endemis yang selalu kita temukan sepanjang tahun dan jumlah kasusnya akan meningkat pada waktu-waktu tertentu terutama pada masa Pancaroba factor penyebab infeksi ini dibawa oleh Nyamuk Aedes Aegypti, dengan masa inkubasi waktu dari masuknya virus ke tubuh sampai timbulnya penyakit adalah 4 sampai 6 hari. Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam berdarah prinsip utama adalah terapi suportif diagnosis yang cepat serta terapi yang tepat yaitu menjaga volume cairan di dalam tubuh dan kebutuhan makanan dan cairan terutama bila pasien sulit makan dan minum, dll, sehingga angka kematian dapat ditekan hingga kurang dari 1 %.
"Gerakan-gerakan pemberantasan yang dilakukan sampai sejauh ini belum melibatkan masyarakat secara luas. Sebagian besar gerakan yang dilakukan hanya satu arah dari pemerintah. Jika ada kunjungan pejabat turun kebawah seolah-olah tampaknya masyarakat sudah bergerak, dan disisi lain memang pemerintah sudah menyebar poster-poster tentang penyakit ini dan mencanangkan gerakan 3M (menutup, Menguras, Mengubur) namun belum ada evaluasi mengenai langkah-langkah ini apakah efektif atau tidak. Tetapi yang jelas kasus DBD selalu ada di masyarakat dan selalu ada kasus yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Potensi masyarakat belum digaji secara maksimal", ujar Dr. Ari.
Sementara itu Dr. Leonard Nainggolan, SpPD KPTI mengatakan, pasien demam berdarah dengue (DBD) yang berbadan gemuk akan lebih berat menderita dibandingkan pasien yang tidak gemuk. Sebab, total "body water" pada orang gemuk jauh lebih sedikit dibanding orang normal. Risiko DBD bukan terletak hanya pada menurunnya trombosit, tapi kekurangan cairan pada tubuh pasien bisa berakibat fatal pada kematian.
"DBD hingga saat ini tidak ada obatnya, tapi DBD bisa sembuh sendiri sesuai pulih atau tidaknya tubuh pasien itu sendiri. Yang terpenting pada pasien DBD memperhatikan siklus waktu terjadinya demam. Siklus waktu bisa mempredikasi kapan masa kritis dan pemulihan pasien berlangsung", tegasnya.
Menurut Dr. Leonard, pasien DBD mengalami kekurangan cairan pada tubuhnya. Sementara pasien muntaber terjadi pengeluaran cairan lewat mulut karena muntah dan buang air besar sehingga terjadi dehidrasi. Sedangkan pasien DBD, dehidrasi juga dialami melalui cairan pembuluh darah. Dehidrasi ini terjadi di dalam tubuh.
"Disebut masa kritis jika terjadi kebocaran plasma yang menyebabkan trombosit rendah. Namun harus diingat, setiap pasien kondisinya akan berbeda satu dengan lainnya, begitu pula pembuluh darahnya", ujarnya.
Dr. Leonard mengatakan, ada pasien yang trombositnya sudah sangat rendah, tapi karena pembuluh darahnya agak tebal tidak mudah pecah dan berdarah-darah. Sebaliknya, ada yang pembuluh darahnya tipis, begitu plasmanya pecah terjadi pendarahan hebat. Padahal trombositnya bagus.
0
.
Staf tenaga pengajar dan tata usaha
Selasa, 23 Februari 2010
Antisipasi Akibat Fatal Demam Berdarah
Diposting oleh sd karangwaru1 TULUNGAGUNG di Selasa, Februari 23, 2010 0 komentar
Label: kesehatan
Virus Influenza H1N1
Pada Maret dan April 2009, wabah influenza di Meksiko telah menyebabkan 192 kasus dan 26 kematian akibat strain baru dari virus influenza H1N1. Pada 28 April 2009, strain baru virus influenza tersebut telah menginfeksi lebih dari 2.500 orang dengan 152 orang meninggal di Meksiko. Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat telah memperingatkan kemungkinan perkembangan ke arah pandemi. Pada 27 April 2009, badan kesehatan dunia World Health Organization meningkatkan status kewaspadaan dari level 3 ke level 4 (maksimal level 6), karena transmisi virus dari manusia ke manusia secara berkesinambungan telah terbukti terjadi.
Awal mula munculnya strain baru ini tidak diketahui pasti tetapi kasus infeksi pada manusia pertama terjadi di dekat sebuah peternakan babi di La Gloria, Veracruz, Meksiko. Edgar Hernandez, seorang anak berusia 4 tahun, awalnya didiagnosis menderita flu biasa tetapi tes laboratorium membuktikan bahwa Edgar terkena flu babi (swine flu).
Dr. Anne Schuchat, interim Deputi Direktur CDC menyatakan virus flu Meksiko yang diisolasi dari pasien di Amerika Serikat terdiri dari empat elemen genetik virus influenza yang berbeda yaitu virus North American Mexican influenza, North American avian influenza, human influenza, dan swine influenza- "suatu campuran genetik yang tidak umum." Strain baru terbentuk dari proses reassortment virus influenza manusia dan influenza babi pada empat strain berbeda dari subtipe H1N1. Virus influenza mengalami reassortment karena ada perubahan antigenik. Oleh karena pada kasus flu Meksiko ini virus belum diisolasikan dari hewan maka sampai sekarang organisasi kesehatan hewan dunia World Organization for Animal Health (OIE) menamakan virus ini sebagai flu Meksiko.
Pandemi influenza
Ada kekhawatiran bahwa epidemic H1N1 influenza atau flu babi (Swine Flu) di Meksiko akan menjadi pandemi seperti diutarakan CDC. Pandemi influenza adalah epidemi dari virus influenza yang menyebar ke seluruh dunia dan menginfeksi sebagian besar populasi manusia. Berlawanan dengan epidemi flu yang berlangsung reguler, pandemi terjadi dalam waktu yang tidak beraturan. Sekurang-kurangnya terdapat tiga pandemi flu dalam satu abad terakhir yaitu flu Spanyol tahun 1918, flu Asia tahun 1959, dan flu Hong Kong tahun 1968.
Flu Spanyol tahun 1918 adalah pandemi influenza yang menyebar hampir ke seluruh dunia. Kejadian ini disebabkan oleh virus Influenza A subtipe H1N1 yang sangat virulen. Data sejarah dan epidemiologi kurang adekuat untuk dapat mengidentifikasi asal virus ini tetapi Sekutu pada Perang Dunia I menyebutnya sebagai flu Spanyol karena kejadian ini baru mendapat perhatian besar dari pers ketika virus ini mulai menyerang Spanyol pada November 1918. Pandemi terjadi dari bulan Maret 1918 sampai Juni 1920 menyebar dari Arktik sampai pulau Samoa di samudera Pasifik. Diestimasikan terdapat 20 sampai 100 juta orang meninggal di seluruh dunia karena virus ini.
Strain baru influenza
Pandemi influenza terjadi ketika strain baru virus influenza mengalami transmisi dari hewan ke manusia. Hewan yang berperan penting dalam transmisi strain baru virus ke manusia antara lain babi, ayam dan bebek. Strain baru ini tidak terpengaruh oleh sistem imunitas tubuh yang sudah ada sehingga akibatnya dapat menginfeksi banyak populasi manusia secara cepat.
Influenza adalah penyakit infeksi pada burung dan mamalia yang disebabkan oleh virus RNA dari keluarga Orthomyxoviridae. Virus H1N1 adalah subtipe virus influenza A dan penyebab utama influenza pada manusia. Beberapa strain H1N1 endemik pada manusia sementara beberapa strain lainnya endemik pada babi dan burung. Virus influenza memiliki angka mutasi yang tinggi yang merupakan karakteristik virus RNA. Kemampuan strain virus influenza untuk memilih inangnya adalah karena adanya variasi pada gen hemagglutinin. Mutasi pada gen hemaglutinin akan menyebabkan substitusi satu asam amino yang secara signifikan mengubah kemampuan protein hemaglutinin virus untuk mengikat reseptor pada permukaan sel inang. Mutasi inilah yang dapat mengubah virus influenza dari non virulen menjadi sangat virulen ke manusia.
Manifestasi klinis
Menurut CDC, gejala flu Meksiko atau flu babi serupa dengan gejala influenza pada umumnya. Gejalanya meliputi demam, batuk, nyeri tenggorok, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, dan rasa lelah. Pada beberapa kasus terdapat gejala diare dan muntah. Pada flu Spanyol tahun 1918 bahkan gejalanya menyerupai penyakit dengue, kolera, dan typhoid sehingga sering sekali terjadi misdiagnosis. Karena gejalanya yang tidak spesifik maka untuk menegakkan diagnosis flu Meksiko diperlukan riwayat kontak dengan penderita flu Meksiko yang sudah terkonfirmasi. CDC Amerika Serikat bahkan menyarankan dokter di wilayah Amerika Serikat untuk mempertimbangkan diagnosis infeksi flu Meksiko atau flu babi pada pasien dengan gejala infeksi saluran nafas atas disertai demam yang mengalami kontak dengan penderita yang sudah dikonfirmasi menderita flu babi atau kontak dengan pasien flu babi di 5 negara bagian di Amerika Serikat atau riwayat bepergian ke Meksiko dalam kurun waktu tujuh hari sebelum muncul gejala flu. Diagnosis harus selalu dikonfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium dari sampel saluran nafas seperti apusan hidung atau tenggorok.
Rute infeksi di manusia
Kesimpulan dari beberapa penelitian menyatakan bahwa angka kematian yang besar pada flu Meksiko terjadi karena adanya badai sitokin di tubuh akibat dari sistem kekebalan tubuh yang sangat bereaksi terhadap virus sehingga malah menghancurkan tubuh. Hal tersebut menjelaskan pertanyaan mengapa infeksi sebagian besar terjadi pada orang usia muda dan sehat. Hal tersebut karena orang usia muda dan sehatlah yang memiliki kekebalan tubuh yang baik sebelum terjadi infeksi sehingga memiliki kecenderungan mengalami reaksi berlebihan terhadap virus. Umumnya, virus influenza ditransmisikan dari manusia yang terinfeksi melalui udara saat batuk atau bersin sehingga droplet berisi virus keluar atau bisa ditransmisikan dari unggas yang terinfeksi melalui fesesnya. Influenza juga ditransmisikan melalu air ludah, ingus, feses, dan darah. Infeksi terjadi ketika hemaglutinin virus influenza menyentuh permukaan epitel tubuh terutama yang mempunyai reseptor virus seperti di hidung, tenggorok, dan saluran nafas. Virus flu dapat tetap infeksius selama satu minggu pada suhu tubuh manusia dan bertahan 30 hari pada suhu 0°C. Beberapa strain virus influenza dapat dengan mudah diinaktivasi oleh disinfektan dan deterjen.
Solusi untuk pencegahan dan terapi
Pencegahan dari flu Meksiko atau flu babi terdiri dari tiga komponen yaitu pencegahan pada hewan, pencegahan transmisi hewan ke manusia, dan pencegahan transmisi antar manusia. Pencegahan pada hewan termasuk pemberian vaksin pada hewan yang terbukti sangat ampuh jika strain virus dalam vaksin cocok dengan strain virus di lingkungan sehingga memiliki efek proteksi silang yang signifikan.
Kasus transmisi virus influenza dari hewan ke manusia yang bekerja di peternakan babi ditemukan pada sebuah penelitian tahun 2004 oleh University of Iowa. Pekerja di peternakan babi dan unggas memiliki risiko tinggi untuk terkena transmisi virus dari hewan dan proses reassortment dapat terjadi. Vaksinasi influenza sering diberikan pada pekerja peternakan di negara maju tapi ternyata vaksin tersebut tidak memiliki efek proteksi karena perbedaan antigen yang besar.
Rekomendasi untuk mencegah penyebaran virus antar manusia termasuk penggunaan protokol standar pengawasan infeksi influenza. Termasuk tindakan mencuci tangan sesering mungkin terutama jika setelah bepergian ke luar rumah. Tindakan mencuci tangan dapat menggunakan sabun, air, atau alkohol. Virus influenza ternyata tidak hanya dapat menyebar melalui droplet tetapi dapat juga ditransmisikan melalui jari tangan ke mulut, hidung, atau mata. Pada kasus pandemi, WHO merekomendasikan empat langkah untuk mengurangi penyebaran virus yaitu isolasi dan terapi segera pada penderita baik yang baru dicurigai maupun sudah terbukti menderita flu babi, karantina bagi rumah tangga yang mengalami kontak dengan penderita, meliburkan sekolah dan merubah jam kerja, serta menunda pertemuan yang bersifat masal.
Obat antivirus terutama inhibitor neuraminidase terbukti efektif dalam mengatasi flu babi. CDC merekomendasikan penggunaan oseltamivir dan zanamivir untuk mencegah resistensi. Amantadine dan rimantadine tidak digunakan karena dari sampel pasien flu Meksiko terbukti bahwa virus pada flu babi resisten terhadap amantadine dan rimantadine. Tetapi, sebagian besar pasien sembuh sempurna tanpa memerlukan obat antivirus.
Belajar dari avian flu
Indonesia memiliki pengalaman menangani avian flu. Pengalaman seperti tidak ada lagi keterlambatan dalam deteksi, pencanangan gerakan nasional, persiapan rumah sakit rujukan, melakukan cegah tangkal terhadap penderita dari negara terinfeksi flu babi, program kampanye kesadaran masyarakat, dan pembuatan peraturan untuk menyokong program pencegahan dapat membuat rakyat Indonesia sadar dan siap untuk menghadapi penyakit ini. Program pencegahan flu babi harus dibuat segera. Fokus program harus pada memaksimalkan cakupan deteksi dini dan pusat pelayanan yang siaga. Mortalitas dapat dicegah jika program pencegahan diletakkan pada pilar pertama. Ini adalah kesempatan besar bagi pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari ancaman penyakit mematikan. Bukankah pencegahan selalu lebih baik?
Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Diposting oleh sd karangwaru1 TULUNGAGUNG di Selasa, Februari 23, 2010 0 komentar
Label: kesehatan
Virus Influenza H1N1
Pada Maret dan April 2009, wabah influenza di Meksiko telah menyebabkan 192 kasus dan 26 kematian akibat strain baru dari virus influenza H1N1. Pada 28 April 2009, strain baru virus influenza tersebut telah menginfeksi lebih dari 2.500 orang dengan 152 orang meninggal di Meksiko. Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat telah memperingatkan kemungkinan perkembangan ke arah pandemi. Pada 27 April 2009, badan kesehatan dunia World Health Organization meningkatkan status kewaspadaan dari level 3 ke level 4 (maksimal level 6), karena transmisi virus dari manusia ke manusia secara berkesinambungan telah terbukti terjadi.
Awal mula munculnya strain baru ini tidak diketahui pasti tetapi kasus infeksi pada manusia pertama terjadi di dekat sebuah peternakan babi di La Gloria, Veracruz, Meksiko. Edgar Hernandez, seorang anak berusia 4 tahun, awalnya didiagnosis menderita flu biasa tetapi tes laboratorium membuktikan bahwa Edgar terkena flu babi (swine flu).
Dr. Anne Schuchat, interim Deputi Direktur CDC menyatakan virus flu Meksiko yang diisolasi dari pasien di Amerika Serikat terdiri dari empat elemen genetik virus influenza yang berbeda yaitu virus North American Mexican influenza, North American avian influenza, human influenza, dan swine influenza- "suatu campuran genetik yang tidak umum." Strain baru terbentuk dari proses reassortment virus influenza manusia dan influenza babi pada empat strain berbeda dari subtipe H1N1. Virus influenza mengalami reassortment karena ada perubahan antigenik. Oleh karena pada kasus flu Meksiko ini virus belum diisolasikan dari hewan maka sampai sekarang organisasi kesehatan hewan dunia World Organization for Animal Health (OIE) menamakan virus ini sebagai flu Meksiko.
Pandemi influenza
Ada kekhawatiran bahwa epidemic H1N1 influenza atau flu babi (Swine Flu) di Meksiko akan menjadi pandemi seperti diutarakan CDC. Pandemi influenza adalah epidemi dari virus influenza yang menyebar ke seluruh dunia dan menginfeksi sebagian besar populasi manusia. Berlawanan dengan epidemi flu yang berlangsung reguler, pandemi terjadi dalam waktu yang tidak beraturan. Sekurang-kurangnya terdapat tiga pandemi flu dalam satu abad terakhir yaitu flu Spanyol tahun 1918, flu Asia tahun 1959, dan flu Hong Kong tahun 1968.
Flu Spanyol tahun 1918 adalah pandemi influenza yang menyebar hampir ke seluruh dunia. Kejadian ini disebabkan oleh virus Influenza A subtipe H1N1 yang sangat virulen. Data sejarah dan epidemiologi kurang adekuat untuk dapat mengidentifikasi asal virus ini tetapi Sekutu pada Perang Dunia I menyebutnya sebagai flu Spanyol karena kejadian ini baru mendapat perhatian besar dari pers ketika virus ini mulai menyerang Spanyol pada November 1918. Pandemi terjadi dari bulan Maret 1918 sampai Juni 1920 menyebar dari Arktik sampai pulau Samoa di samudera Pasifik. Diestimasikan terdapat 20 sampai 100 juta orang meninggal di seluruh dunia karena virus ini.
Strain baru influenza
Pandemi influenza terjadi ketika strain baru virus influenza mengalami transmisi dari hewan ke manusia. Hewan yang berperan penting dalam transmisi strain baru virus ke manusia antara lain babi, ayam dan bebek. Strain baru ini tidak terpengaruh oleh sistem imunitas tubuh yang sudah ada sehingga akibatnya dapat menginfeksi banyak populasi manusia secara cepat.
Influenza adalah penyakit infeksi pada burung dan mamalia yang disebabkan oleh virus RNA dari keluarga Orthomyxoviridae. Virus H1N1 adalah subtipe virus influenza A dan penyebab utama influenza pada manusia. Beberapa strain H1N1 endemik pada manusia sementara beberapa strain lainnya endemik pada babi dan burung. Virus influenza memiliki angka mutasi yang tinggi yang merupakan karakteristik virus RNA. Kemampuan strain virus influenza untuk memilih inangnya adalah karena adanya variasi pada gen hemagglutinin. Mutasi pada gen hemaglutinin akan menyebabkan substitusi satu asam amino yang secara signifikan mengubah kemampuan protein hemaglutinin virus untuk mengikat reseptor pada permukaan sel inang. Mutasi inilah yang dapat mengubah virus influenza dari non virulen menjadi sangat virulen ke manusia.
Manifestasi klinis
Menurut CDC, gejala flu Meksiko atau flu babi serupa dengan gejala influenza pada umumnya. Gejalanya meliputi demam, batuk, nyeri tenggorok, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, dan rasa lelah. Pada beberapa kasus terdapat gejala diare dan muntah. Pada flu Spanyol tahun 1918 bahkan gejalanya menyerupai penyakit dengue, kolera, dan typhoid sehingga sering sekali terjadi misdiagnosis. Karena gejalanya yang tidak spesifik maka untuk menegakkan diagnosis flu Meksiko diperlukan riwayat kontak dengan penderita flu Meksiko yang sudah terkonfirmasi. CDC Amerika Serikat bahkan menyarankan dokter di wilayah Amerika Serikat untuk mempertimbangkan diagnosis infeksi flu Meksiko atau flu babi pada pasien dengan gejala infeksi saluran nafas atas disertai demam yang mengalami kontak dengan penderita yang sudah dikonfirmasi menderita flu babi atau kontak dengan pasien flu babi di 5 negara bagian di Amerika Serikat atau riwayat bepergian ke Meksiko dalam kurun waktu tujuh hari sebelum muncul gejala flu. Diagnosis harus selalu dikonfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium dari sampel saluran nafas seperti apusan hidung atau tenggorok.
Rute infeksi di manusia
Kesimpulan dari beberapa penelitian menyatakan bahwa angka kematian yang besar pada flu Meksiko terjadi karena adanya badai sitokin di tubuh akibat dari sistem kekebalan tubuh yang sangat bereaksi terhadap virus sehingga malah menghancurkan tubuh. Hal tersebut menjelaskan pertanyaan mengapa infeksi sebagian besar terjadi pada orang usia muda dan sehat. Hal tersebut karena orang usia muda dan sehatlah yang memiliki kekebalan tubuh yang baik sebelum terjadi infeksi sehingga memiliki kecenderungan mengalami reaksi berlebihan terhadap virus. Umumnya, virus influenza ditransmisikan dari manusia yang terinfeksi melalui udara saat batuk atau bersin sehingga droplet berisi virus keluar atau bisa ditransmisikan dari unggas yang terinfeksi melalui fesesnya. Influenza juga ditransmisikan melalu air ludah, ingus, feses, dan darah. Infeksi terjadi ketika hemaglutinin virus influenza menyentuh permukaan epitel tubuh terutama yang mempunyai reseptor virus seperti di hidung, tenggorok, dan saluran nafas. Virus flu dapat tetap infeksius selama satu minggu pada suhu tubuh manusia dan bertahan 30 hari pada suhu 0°C. Beberapa strain virus influenza dapat dengan mudah diinaktivasi oleh disinfektan dan deterjen.
Solusi untuk pencegahan dan terapi
Pencegahan dari flu Meksiko atau flu babi terdiri dari tiga komponen yaitu pencegahan pada hewan, pencegahan transmisi hewan ke manusia, dan pencegahan transmisi antar manusia. Pencegahan pada hewan termasuk pemberian vaksin pada hewan yang terbukti sangat ampuh jika strain virus dalam vaksin cocok dengan strain virus di lingkungan sehingga memiliki efek proteksi silang yang signifikan.
Kasus transmisi virus influenza dari hewan ke manusia yang bekerja di peternakan babi ditemukan pada sebuah penelitian tahun 2004 oleh University of Iowa. Pekerja di peternakan babi dan unggas memiliki risiko tinggi untuk terkena transmisi virus dari hewan dan proses reassortment dapat terjadi. Vaksinasi influenza sering diberikan pada pekerja peternakan di negara maju tapi ternyata vaksin tersebut tidak memiliki efek proteksi karena perbedaan antigen yang besar.
Rekomendasi untuk mencegah penyebaran virus antar manusia termasuk penggunaan protokol standar pengawasan infeksi influenza. Termasuk tindakan mencuci tangan sesering mungkin terutama jika setelah bepergian ke luar rumah. Tindakan mencuci tangan dapat menggunakan sabun, air, atau alkohol. Virus influenza ternyata tidak hanya dapat menyebar melalui droplet tetapi dapat juga ditransmisikan melalui jari tangan ke mulut, hidung, atau mata. Pada kasus pandemi, WHO merekomendasikan empat langkah untuk mengurangi penyebaran virus yaitu isolasi dan terapi segera pada penderita baik yang baru dicurigai maupun sudah terbukti menderita flu babi, karantina bagi rumah tangga yang mengalami kontak dengan penderita, meliburkan sekolah dan merubah jam kerja, serta menunda pertemuan yang bersifat masal.
Obat antivirus terutama inhibitor neuraminidase terbukti efektif dalam mengatasi flu babi. CDC merekomendasikan penggunaan oseltamivir dan zanamivir untuk mencegah resistensi. Amantadine dan rimantadine tidak digunakan karena dari sampel pasien flu Meksiko terbukti bahwa virus pada flu babi resisten terhadap amantadine dan rimantadine. Tetapi, sebagian besar pasien sembuh sempurna tanpa memerlukan obat antivirus.
Belajar dari avian flu
Indonesia memiliki pengalaman menangani avian flu. Pengalaman seperti tidak ada lagi keterlambatan dalam deteksi, pencanangan gerakan nasional, persiapan rumah sakit rujukan, melakukan cegah tangkal terhadap penderita dari negara terinfeksi flu babi, program kampanye kesadaran masyarakat, dan pembuatan peraturan untuk menyokong program pencegahan dapat membuat rakyat Indonesia sadar dan siap untuk menghadapi penyakit ini. Program pencegahan flu babi harus dibuat segera. Fokus program harus pada memaksimalkan cakupan deteksi dini dan pusat pelayanan yang siaga. Mortalitas dapat dicegah jika program pencegahan diletakkan pada pilar pertama. Ini adalah kesempatan besar bagi pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari ancaman penyakit mematikan. Bukankah pencegahan selalu lebih baik?
Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Diposting oleh sd karangwaru1 TULUNGAGUNG di Selasa, Februari 23, 2010 0 komentar
Label: kesehatan
Selasa, 10 November 2009
Hasil Pemugaran gedung SDN 1 Karangwaru tulungagung
Diposting oleh sd karangwaru1 TULUNGAGUNG di Selasa, November 10, 2009 1 komentar
Pemugaran Gedung Lama kls II dari dana DAK 2009
Rehab gedung yang terletak di belakang bagian utara SDN 1 Karangwaru yang notabene memang perlu diperbaharui Oleh Fihak sekolah akhirnya dapat terselesaikan dengan bantuan DAK (Dana Alokasi Khusus) 2009.dan syukur alhamdulillah proses perbaikan Kelas tersebut tidak mengalami kendala.
Hal ini tentunya akan bisa menambah kelancaran dalam proses belajar mengajar dan diharapkan bisa memajukan dunia pendidikan khususya bagi putra putri SDN 1 Karangwaru tulungagung.
Diposting oleh sd karangwaru1 TULUNGAGUNG di Selasa, November 10, 2009 0 komentar
